Jumat, 20 Juni 2014

ERIKSON




Definisi Kepribadian Menurut Erikson
            Erikson memiliki pendapat dan pandangan yang hamper sesuai dengan ajaran psikoanalisis Freud., tetapi yakin bahwa Freud salah menilai beberapa dimensi penting perkembangan dalam tahap-tahap psikososial yang berbeda dengan tahap psikososial Freud. Teori Erikson lebih menekankan pada masyarakat dan kebudayaan, karena Erikson memiliki ketertarikan yang besar terhadap ilmu antropologi. Erikson menganggap bahwa dinamika kepribadian individu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar secara biologis dan pengungkapannya dalam tindakan-tindakan sosial. Maka dari itu, digunakanlah istilah psikososial, yang terkait dengan perkembangan yang dialami oleh setiap individu. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sementara Freud berpendapat bahwa kepribadian dasar kita dibentuk pada 5 tahun pertama kehidupan kita. Teori kepribadian yang dikemukakan oleh Erikson menyatakan, adanya tahap-tahap perkembangan psikososial yang pada umumnya dihadapkan dengan konflik sosial, dimana konflik ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadian individu.
            Definisi kepribadian tidak ditemukan secara langsung, namun dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan terbentuk dari tahap-tahap kehidupan seorang individu, dari sejak lahir hingga meninggal dibentuk oleh pengaruh interaksi sosial yang menjadikan seseorang matang secara fisik dan psikologisnya.

Struktur Kepribadian Menurut Erikson
Ego Kreatif
            Erikson menggambarkan adanya 8 tahap kualitas yang dimiliki ego yaitu, Trust vs Mistrust, Autonomy vs Shame-doubt,  Initiative vs Guilt, Industriousness vs Inferiority, Identity Cohesion vs Role Confusion, Identity Cohesion vs Role Confusion, Intimacy vs Isolation, Generativity vs Stagnation,  dan Ego Integrity vs Despair . Ego tersebut dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Ego dapat mengatur id, super ego dan dibentuk oleh konteks kultural dan historik.
Ego sempurna menurut Erikson :
·         Faktualias : Kumpulan fakta, data, dan metode yang dapat diverifikasikan dengan metode kerja yang sedang berlaku. Ego tersebut berisi kumpulan fakta dan data hasil interaksi dengan lingkungan.
·         Universalitas : Berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan yang menggabungkan hal yang praktis dan konkret dengan pandangan yang luas.
·         Aktualitas : Cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, dan memperkuat untuk mencapai tujuan bersama
Pada dasarnya Erikson tidak menentang apa yang dinyatakan oleh freud bahwa struktur kepribadian terdiri atas Id, Ego dan Superego. Erikson mengulas lebih dalam mengenai Ego. Menurutnya Ego sebagian bersifat tidak sadar, mengorganisir pengalaman sekarang dengan pengalaman dari masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang.
Erikson menyatakan ada 3 aspek Ego yang saling berhubungan, yakni :
·         Body Ego ( pengalaman dengan tubuh)
·         Ego Ideal ( mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal)
·         Ego Identity ( gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial.
Perkembangan Kepribadian Erikson (Tahapan Psikososial)
            Erikson membagi perkembangan kepribadian dalam delapan tahapan yang disebut tahapan psikososial. Empat tahapan psikososial yang pertama mirip dengan konsep tahapan perkembangan Freud; tahap oral, anal, phallic, dan latency. Menurut Erikson, setiap tahapan perkembangan memiliki konflik-konflik tersendiri yang disebabkan oleh krisis. Melalui delapan tahapan perkembangan yang ada, Erikson mengemukakan bahwa ketika terjadi ketidakseimbangan dalam satu tahap, maka tetap dapat melanjutkan tahapan perkembangan berikutnya.
Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erikson:
1.      Oral-sensory (lahir – 1 tahun)
2.      Muscular-anal (1 – 3 tahun)
3.      Locomotor-genital (3 – 5 tahun)
4.      Latency (6 – 11 tahun)
5.      Adolescence (17 – 18 tahun)
6.      Young adulthood (18 – 35 tahun)
7.      Adulthood (35 – 55 tahun)
8.      Maturity and old age (55 tahun ke atas)
Tahap
Perkiraan usia
Mengatasi adaptif dan maladaptif
Kekuatan dasar
Oral-sensory
Dari lahir-1tahun
Trust vs Mistrust
Harapan
Muscular-anal
1-3 tahun
Autonomy vs Doubt, Shame
Kemauan
Locomotor-genital
3-5 tahun
Initiative vs Guilt
Tujuan
Latency
6-11 tahun, pubertas
Industriousness vs Inferiority
Kompetensi
Adolescense
12-18 tahun
Identity Cohesion vs Role Confusion
Kesetiaan
Young Adulthood
18-35 tahun
Intimacy vs Isolation
Cinta
Adulthood
35-55 tahun
Generativity vs Stagnation
Kepeduliaan
Maturity and Old Age
55+ tahun
Ego Integrity vs Despair
Kebijaksanaan

1.      Trust vs Mistrust
Tahap ini berlangsung pada masa oral yang terjadi pada umur 0 – 1 tahun kehidupan seseorang yang ditandai dengan adanya dorongan untuk mempercayai dan tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Pada tahap ini seorang bayi sangat bergantung kepada orang lain khususnya seorang ibu, untuk mendapatkan rasa aman, terlindungi dan dicintai. Selama tahapan ini mulut menjadi bagian terpenting bagi bayi. Kepercayaan pada bayi akan terbangun dengan baik apabila dorongan oralis mereka terpuaskan.
Apabila seorang ibu mampu memberikan respon yang baik terhadap bayi mereka sehingga kebutuhan mereka terpenuhi maka bayi akan mulai membangun rasa kepercayaan terhadap ibu dan dunia mereka sebagai suatu tempat yang aman bagi mereka. Sebaliknya, apabila seorang ibu tidak mampu memberikan respon yang baik terhadap bayinya seperti penolakan dan ketidakkonsistenan perilaku yang ditunjukkan maka hal ini akan membangun rasa ketidakpercayaan, perasaan takut, dan kecemasan.
2.      Autonomy vs Doubt, Shame
Selama tahap kedua dan ketiga dari masa kehidupan ini disebut sebagai tahap anal-muscular. Tugas yang harus dicapai pasa masa ini adalah kemampuan seseorang untuk mencapai kemandirian dan menghilangkan rasa malu dan ragu-ragu. Dari semua kemampuan yang dimiliki, Erikson mempercayai bahwa yang termasuk dalam hal terpenting dalam sebuah pencapaian adalah “mempertahankan sesuatu dan merelakannya”. Misalnya, mempertahankan sesuatu dapat diwujudkan baik dengan cara yang penuh dengan kasih sayang ataupun bermusuhan. Merelakan sesuatu bisa menjadi suatu bentuk melepaskan kemarahan.
Poin terpenting pada tahapan ini adalah untuk pertama kalinya anak bisa melatih kemampuan mereka dalam memilih, dimana hal ini bertujuan untuk membentuk pengalaman yang bisa meningkatkan kekuatan kemandirian seperti toilet-training. Daerah anal menjadi fokus penting dalam tahapan ini karena adanya konflik pada toilet-training. Ketika orang tua menunjukkan rasa frustrasi mereka ketika melatih kemandirian anak, maka hal ini akan membangun perasaan ragu-ragu dan malu pada diri mereka.
3.      Initiative vs Guilt
Tahap ketiga dari dari perkembangan psikososial ini juga dikatakan sebagai tahap genital-locomotor. Tahap ini berada pada periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 tahun. Pada masa ini tugas yang harus diselesaikan seorang anak adalah kemampuan dalam membangun inisiatif. Keinginan mereka untuk membuat suatu inisiatif dalam segala aktivitas. Inisiatif dalam bentuk fantasi juga tumbuh dan diwujudkan dalam keinginan anak untuk memiliki sesuatu dari lawan jenis mereka dan merasa bersaing dengan orang tua dari jenis kelamin yang sama.
4.      Industriousness vs Inferiority
Tahap latency yang diungkapkan oleh Erikson dari perkembangan psikososial berada pada usia 6 sampai 11 tahun sesuai dengan tahap latency yang dikemukakan oleh Freud. Anak mulai masuk pada tahap pra-sekolah dan menunjukkan pengaruh baru dari kehidupan sosial. Ketika anak berada di rumah dan di sekolah kedua tempat tersebut menimbulkan dorongan pada anak untuk melakukan sesuatu yang baik terhadap lingkungannya, namun terkadang tidak semua bisa sesuai dengan kemampuan anak sehingga menimbulkan kegagalan. Hal inilah yang akan menumbuhkan rasa rendah diri pada anak. Seberapa jauh anak mampu mengetahui kemampuan dirinya sendiri untuk bisa mengembangkan keahlian mereka ditentukan oleh sikap dan perilaku orang tua dan guru mereka.
5.      Identity Cohesion vs Role Confusion
Masa remaja (adolescence) ditandai dengan adanya isu terkait dengan identitas. Masa remaja merupakan masa persiapan menuju kedewasaan dan dengan kemampuan yang ia miliki, remaja  berupaya membentuk serta memperlihatkan identitas dirinya. Membentuk dan menerima identitas diri tidaklah mudah. Pada masa remaja ini, ikatan atau hubungan dengan teman-teman sebaya mulai erat dan individu akan berusaha untuk menjalin atau membentuk hubungan tersebut. Remaja harus benar-benar menemukan peran yang cocok bagi dirinya. Individu yang berhasil menjalani tahap ini akan dengan percaya diri dan yakin untuk lanjut ke tahap perkembangan psikososial selanjutnya. Jika tidak berhasil, maka individu akan tidak mengetahui peran dan identitasnya.
6.      Intimacy vs Isolation
Memasuki masa dewasa awal (young adulthood), ditandai dengan adanya isu terkait intimacy dan isolation. Pada tahap ini, timbul dorongan intuk membentuk hubungan intim dengan orang-orang tertentu. Ketika individu tidak mampu menjalin relasi dengan individu lainnya, maka akan tumbuh perasaan terisolasi.
7.      Generativity vs Stagnation
Masa dewasa rentan dengan isu generativity dan stagnation.  Pada tahap ini, individu mencapai puncak perkembangan, memiliki beberapa kecakapan yang mampu membuat individu mencapai kesuksesan, dan memiliki pengetahuan yang luas. Pada tahap ini, individu dituntut untuk mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu dan memiliki kepedulian terhadap orang lain (generativity). Jika tidak mampu menghasilkan sesuatu, yang terjadi adalah stagnation (tidak memiliki kepedulian tehadap orang lain).
8.      Ego Integrity vs Despair
Dalam tahapan perkembangan terakhir psikososial Erikson (maturity), individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya.  Pada tahap ini, amsih terdapat keinginan untuk meraih prestasi. Namun, karena adanya penurunan kemampuan, individu sering merasakan keputusasaan. Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan.
Proses Kepribadian dalamTeori Erikson
            Erikson menanamkan gagasan baru dalam teori psikoanalisa. Erikson memperluas dan memperbaharui prinsip dasarnya dengan sebuah temuan baru dan merubah konsepnya. Erikson menyatakan bahwa perkembangan manusia melibatkan serangkaian konflik yang setiap orang konfliknya harus diatasi. Ketika konflik pada setiap tahap tidak diselesaikan, kita cenderung tidak dapat beradaptasi dengan tahap berikutnya meskipun lebih sulit untuk dicapai, dan hasil yang bagus masih bisa tercapai.
            Erikson dan beberapa tokoh lainnya mempercayai bahwa keputusan yang baik lebih dipengaruhi oleh ego daripada Id dan superego. Erikson juga percaya bahwa ego harus menggabungkan kedua cara yaitu maladaptif (negatif) dan adaptif (positif) untuk menghadapi masalah. Dalam tahap pertama perkembangan psikososial kita dapat menanggapi krisis dengan mengembangkan rasa kepercayaan atau rasa tidak kepercayaan.
            Kepercayaan adalah cara yang lebih adaptif, dan diinginkan untuk mengatasi karna jelas sikap psikologisnya sehat. Namun kita juga harus menggunakan sedikit ketidakpercayaan sebagai bentuk perlindungan. Erikson melihat adanya kerentanan dan efek yang fatal didalam Ego. Erikson juga memandang Ego sebagai sesuatu yang dapat dipelajari dan kreatif. Seperti telah memilki anatomi atau struktur. Ego juga tidak selamanya penghambat, tetapi juga bisa menjadi dorongan bagi seorang individu.
            Beberapa perbedaan terori antara Erikson dan Sigmund Freud, yaitu :
·         Freud menekankan bahwa kepribadian dibentuk pada usia 5 tahun pertama, sementara Erikson menekankan bahwa kepribadian berlanjut terus-menerus dan berkembang pada tahap-tahap sepanjang rentang kehidupan.
·         Freud menekankan kepribadian pada id, sementara Erikson lebih menekankan kepribadian pada ego.
·         Freud tidak terlalu memberikan penekanan pada pengaruh sosial dalam perkembangan kepribadian, sementara Erikson menekankan pada pengaruh budaya dan sejarah dalam membentuk kepribadian individu.
·         Freud menekankan kepribadian pada id, Erikson menekankan kepribadian pada ego.
·         Freud kurang menekankan kepribadian pada pengaruh sosial, sedangkan Erikson mengakui adanya pengaruh budaya sosial dan sejarah dalam perkembangan kepribadian. Erikson mengatakan bahwa kita tidak diatur seutuhnya oleh kekuatan biologis yang bekerja pada masa kanak-kanak.

Assessment dalam Teori Erikson
            Erikson ikut memimpin Freud dalam formulasi teori tertentu, tetapi ia menyimpang dari Freud dalam metode nya untuk menilai kepribadian.
Erikson mendefinisikan psychohistorical analysis sebagai  “studi individual dan kehidupan kolektif dengan metode yang memadukan psikoanalisis dan sejarah”. Erikson menggunakan  psychohistorical analysis untuk menunjukan  keyakinan utamanya bahwa setiap orang adalah hasil dari masa sejarahnya. Sebagai pencetus psychohistorical analysis, Erikson percaya bahwa ia harus terlibat secara emosional dengan subjek. Contohnya, ia mengembangkan keterikatan emosional yang kuat dengan Gandhi, yang ia hubungkan dengan pencarian seumur hidup akan ayahnya yang tidak pernah ia temui. Dalam mencari jawabannya, Erikson meninjau seluruh siklus kehidupan Gandhi. Erikson menggambarkan perbedaan antara konflik-konflik pada orang-orang hebat, seperti Gandhi dan orang-orang yang terganggu secara psikologis.

Erikson’s Image of Human Nature ( image erikson’s terhadap sifat manusia)
Teori Erikson memungkinkan untuk optimisme karena setiap tahap pertumbuhan psikososial, meskipun cukup berat , tetapi kemungkinan mendapatkan hasil yang positif. Kita mampu menyelesaikan setiap krisis dengan cara yang adaptif dan penguatan .
Kita memiliki potensi secara sadar untuk  mengarahkan pertumbuhan kita di seluruh kehidupan kita .. kita memperoleh peningkatkan kemandirian dan kemampuan tumbuh untuk memilih cara kita menanggapi krisis dan tuntutan masyarakat . Pengaruh masa kanak-kanak adalah hal penting.
Teori Erikson hanya sebagian deterministik. Selama empat tahap pertama , pengalaman yang kita terkena - melalui orang tua , guru , kelompok sebaya , dan berbagai celah - sebagian besar di luar kendali kita . Kehendak bebas dapat dilaksanakan lebih selama empat tahap terakhir, meskipun pilihan kita akan terpengaruh oleh sikap dan kekuatan kita terbentuk selama tahap-tahap awal  yaitu masa kanak-kanak.
Secara umum , Erikson percaya bahwa kepribadian lebih dipengaruhi oleh pembelajaran dan pengalaman daripada oleh faktor keturunan. Pengalaman psikososial, kekuatan biologis tidak naluriah , merupakan penentu yang lebih besar dari pengembangan kepribadian . Akhir , tujuan utama kita adalah untuk mengembangkan identitas ego positif yang menggabungkan semua kekuatan dasar .

Aliran dalam Psikologi



STRUKTURALISME
Struktualisme adalah aliran yang termasuk ke dalam conscious mind atau kesadaran. Struktualisme juga suatu aliran psikologi awal yang  berupaya mengidentifikasikan berbagai struktur pikiran manusia. Aliran struktualisme pertama kali di pelopori oleh Wilhelm Wund,seorang professor biologi di Jerman yang tertarik untuk mengamati kesadaran manusia.Wilhelm Wundt (1832-1920) pada awalnya dikenal sebagai seorang sosiolog, filsuf, dan ahli hukum, yang merupakan sarjana hukum dan sarjana kedokteran di Heidelberg, Tubingen dan Berlin. Wilhelm Wundt merupakan orang pertama yang mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig, yang merupakan awal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Hasil karyanya kemudian dilanjutkan oleh muridnya Edward Titchener yang mengajar di Universitas Cornell  Amerika Serikat. Titcener lahir pada tanggal 1 November 1867 dan meninggal pada tanggal 8 maret 1927. Titcener pernah memperoleh beasiswa ke Oxpord University, dan disanalah ia memulai studi nya di filsafat dan sastra klasik. Selain itu, ia juga melanjutkan belajarnya selama satu tahun di Oxpord dalam ilmu pengetahuan engan experimental fisiologi Burdon Sanderson. Kemudian, ia belajar di Leipzig dengan menerima gelar PhD pada tahun 1892. Titcener mengembangkan gagasan dari Wundt, namun ia banyak memisahkan diri dari ide gurunya. Ia berhasil menciptakan sistem psikologi structural yang kemudian di sebut studi strukturalime dengan struktur elemental kesadaran berdasarkan introfeksi.
Wundt dan Titcener  memusatkan pada upaya untuk menemukan unsur-unsur dasar, atau “struktur” proses-proses mental. Strukturalisme sendiri menyelidiki struktur kejiwaan. Mereka berpendapat bahwa kesadaran merupakan sesuatu yang abstrak,sehingga metode yang digunakan untuk mengukur kesadaran tersebut ialah instrospeksi dari pengalaman. Pengalaman akan hal yang bersifat konkret ternyata menjadi hal-hal yang sangat berbeda bagi setiap individu. Misalnya,menonton film dua jam akan terasa lebih menyenangkan daripada belajar matematika selama dua jam.Bagi orang yang tidak menyukai  matematika waktunya akan terasa sangat lama ketika belajar dan yang suka menonton ia tidak sadar bahwa ia telah menonton selama itu.Inilah yang menjadi aspek psikologis,yaitu kesadaran dari strukturalisme.


Misal lain, ketika seseorang di suguhkan sepotong apel dengan kondisi mata di tutup. Kemudian ia menggigit apel tersebut tanpa ia mengetahui itu benda apa. Orang tersebut disuruh menggambarkan sensasi yang ia rasakan dari gigitan apel tersebut. Spontan orang tersebut mengatakan “ ini apel”. Namun jawaban yang di minta adalah sensasi yang di alami, bukan benda yang di suguhkan. Setelah di jelaskan orang tersebut pun menjawab, “manis, hmm,sedikit asam, teksturnya kasar dan berair ”. hal tersebut membangun batasan yang mana kesadaran di bentuk. Segala sesuatu yang kamu alami di hidup ini berdasarkan dari elemen-elemen dasar dan bagaimana elemen dasar itu terorganisir.
Strukturalisme menekankan pada pengalaman mental yang kompleks, yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, kesadaran dan proses pembentukannya. Sehingga kita menjalani sesuatu dan menikmatinya maka waktu akan terasa berjalan lebih cepat. Analisis mengenai kesadaran ke dalam elemen-elemennya, akan menghasilkan tiga hal yang tidak dapat dikurangi atau lebih disederhanakan lagi, yaitu: penginderaan, gambaran dan keadaan afektif (keadaan perasaan dan emosi). Masing-masing dari hal tersebut merupakan unsur dalam penginderaan, yang tidak bisa dipecah-pecah lagi oleh analisis introspektif. Akan tetapi, masing-masing dapat dituliskan berkenaan dengan sifat-sifatnya. Semua unsur memiliki sifat kualitas, intensitas, dan lamanya berlangsung. Kualitas merupakan sifat yang paling fundamental, yang memungkinkan seseorang membedakan satu pengalaman dari pengalaman lainnya. .
Untuk beberapa tahun lamanya, strukturalisme merupakan aliran yang dominan dari psikologi di Amerika Serikat dan Jerman; sesudah itu aliran tersebut banyak diserang oleh sistem-sistem saingan lainnya. Di Amerika Serikat, fungsionalisme menjadi sistem favorit; sedang di Jerman, psikologi Gestalt. Hal ini terjadi karena aliran ini tidak mampu memperluas metodenya tentang tingkah laku, atau tidak mampu menyajikan tes mental dan studi mengenai cara belajar.
Ada beberapa kritik yang di ajukan terhadap strukturalisme titchener .pertama mengenai metode introkfeksinya, Immanuel Kant menyatakan bahwa semua percobaan mengenai pengalaman kesadaran yang melibatkan introfeksi,akan mengubah pengalaman kesadaran tersebut.Hal ini di karenakan adanya variabel observasi yang dimasukkan ke dalam esensi dari pengalaman kesadaran tesebut.Titchener juga bersifat eksklusif,ia hanya memikirkan pengalaman langsung sebagai bahasan psikologi.ia tidak menghiaukan aplikasinya ke dunia nyata dan tidak terpengaruh oleh bahasan psikologi yang sedang berkembang (social,abnormal,anak,hewan,dan lakn – lain),dan masih banyak kritik lain.

Meskipun terdapat banyak kritik,strukturalisme Titchener telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan psikologi masa kini.Titchener berpendapat psikologi harus lepas dari kekuatan metafisika,fikiran awam,dan kepentinga kegunaan atau terapan yang akan merusak integritasnya.Titchener bersama dengan Wundt berupaya untuk mempertahankan integritas psikologi dengan membedakannya dari fisika.Subject pembahasan psikologi strukturalisme adalah proses kesadaran dan bebas dari asosiasi.
Selain wundt dan titchener,ada juga tokoh dalam aliran strukturalisme yaitu Henry Alson,dimana Alson sangat terkenal dengan penelitiannya tentang sensasi dingin dan panas.Alson menemukan bahwa seseorang lebih sering merasakan panas ketika kedua reseptor hangat dan dingin di kulit di stumulasi pada saat yang bersamaan.berdasarkan penelitiannya ia mengemukakan bahwa sensasi panas akan lebih sering tersa dari pada sensasi dingin karena dari penyatuan antara panas dan dingin menghasilkan panas.pada tahun 1920,alson membuktikan penemuannya dengan membungkus dua pipa air secara bersamaan,di man dua pipa tersbut masing – masing mengalir air panas dan dingin.ketika orang – orang memengang pipa dalam jangka waktu yang lama maka orang – ornag tersebut akan merasakan panas pada pipa tersebut,karena ke dua reseptor hangat dan dingin di kulit distumulasi oleh pipa sehingga- terasa sensasi panas terus menerus.dan dari penelitian Alson tersebut menyatakan jika menyatu dua sensasi berbeda maka lama – kelamaan salah satu sensasi akan lemah oleh sensasi yang lebih kuat.karena penelitiannya tersebut Henry Alson sangat terkenal dengan ilmunya tentang sensasi panas dan dingin.

Aliran da;am psikologi



FUNGSIONALISME
Berlawanan dengan strukturalisme yang menekankan pada unsur – unsur fikiran,fungsionalisme lebih memusatkan pada fungsi dan tujuan dari fikiran dan prilaku dalam adaptasi individu dengan lingkungan.Sementara strukturalisme melihat ke dalam fikiran,mencari sturuktur – sturukturnya,Fungsionalisme lebih memusatkan pada apa yang terjadi dalam intraksi manusia dengan dunia luar.Jika strukturalisme mengenai “apa’dari fikiran,fungsionalisme mengenai “mengapa”.
Fungsionalisme (Functional Psychology) adalah aliran psikologi yang tumbuh di Amerika Serikat yang dipelopori oleh William James (sering disebut bapak psikologi Amerika Serikat). James terkesan pada karya dari ahli biologi Charles Dharwin pada tahun 1850 tentang teori evolusinya. Teori evolusi cocok dengan sudut pandang fungtionalisme karena penekanannya pada fungsi keberlangsungan hidup dari karakteristik. Teori evolusi menyimpulkan bahwa kita memang cocok untuk bertahan hidup dalam lingkungan kita saat ini.
Dharwin menyampaikan bahwa setiap karakteristik fisik berkembang pada setiap spesies karena ada tujuannya, termasuk tingkah laku dan fikiran manusia. Berfikir, merasakan, belajar, mengingat, dan proses lain dari kesadaran manusia hanya untuk membantu kita bertahan sebagai mahluk hidup. Dengan berfikir kita busa mengetahui bagaimana cara untuk mencari makan, mencegah bahaya,
James pada dasarnya tertarik pada pembahasan pengetahuan kesadaran, tindakan suka rela, kebiasaan, dan emosi. Karena James terfokus pada apa yang dapat di lakukan oleh fikiran. James membandingkan kesadaran manusia dengan arus mengalir, kita dapat mempelajari arus tersebut dengan memisahkan molekul air seperti teori strukturalisme, akan tetapi dengan melakukan hal tersebut kita akan kehilangan kealamian dan keindahan dari keseluruhan aliran sungai tersebut. Mempelajari molekul air pada arus tidak akan menjelaskan kepada kita tentang bagaimana arus tersebut, bagaimana air itu mengikis tanah, memberikan tempat tinggal untuk mahluk hidup, dan yang lainnya. Sama halnya dengan kita mempelajari elemen fikiran, tidak akan memberitahukan kita bagaimana kita harus menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup. Fungsi dari fikiran bukan elemen dasar, adalah pembahasan dalam teori fungtionalisme.



Tokoh lain yang membahas tentang funtionalisme adalah James Rowland, murid dari William James. Ia pernah menjabat sebagai “ American psychology”dan berpendapat bahwa fungtionalisme adalah psikologi tentang operasi mental, kegunaan dasar dari kesadaran, dan jiwa yang merupakan perantara antara kebutuhan dengan lingkungan. Jadi, fungtionalisme menyangkut jiwa dan kesadaran seperti kebiasaan, tingkah laku yang setengah disadari dan sebagainya.
 Robert Sessions Woodworth (1869-1962), berasal dari kelompok Columbia. Ia adalah tokoh yang terkemuka dan pernah mendapat mendali emas (1956) dari The American Psychological Foundantion atas jasa-jasanya yang mempersatukan dan mengorganisasikan psikologi di Amerika Serikat. Pahamnya yang dikemukakan dalam buku Dynamic Psychology (1918) menyebabkan bahwa Wood worth patut digolongkan dalam pengikut aliran psikodinamik., dan berpendirian bahwa metode intropeksi tidak mesti harus dibuang demikian saj dalam penelitian psikologi. Karena minatnya yag besar dalam hal mempelajari motivasi sebagai dasar tingkah laku manusia, Woodworth sering disebut sebagai tokoh yang mempelopori ilmu tentang motif, atau motivologi.
Berdasarkan pengertiannya “mengapa” sesuatu itu ada,”mengapa” bisa terjadi sehingga membutuhkan pemikiran dan penelirian yang akurat untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan umumnya. Aliran fungsionalisme ini mempelajari fungsi dan tingkah laku atau prosesmental, bukan hanya mempelajari struktural. Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme dikenal sebagai metode observasi tingkah laku dan intropeksi .
1.     Metode Observasi Tingkah Laku
 terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a. Metode Fisiologis Menguraikan tingkah laku dari sudut pandang anatomi dan ilmu faal. Jadi, mempelajari perilaku yang dikaitkan dengan organ-organ tubuh dan sistem sarafnya.
 b. Metode Variasi Kondisi Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi kondisi inilah yang merupakan metode eksperimen dari aliran fungsionalisme.
      2. Metode Introspeksi
Stimulus berasal dari lingkungan secara alamiah, bisa pada banyak bagian sekaligus sehingga jiwa menunjukkan fungsinya. Metode ini terlalu bersifat subjektif sehingga sulit di sistematikan dan sulit dikuantitatifkan.
Inti fungsionalisme adalah pertanyaan mengapa di anggap dapat di sesuaikan mengenai orang – orang berfikir seperti yang mereka lakukan.James dan penganut funsionalisme lainnya tidak percaya dengan eksistensi struktur fikiran yang dasar dan kaku.Bahkan,James memandang pikiran sebagai sesuatu yang luwes dan cair,dicirikan dengan perubahan dan adaptasi yang terus – menerus dan berensopon terhadap aliran informasi yang berkesinambungan.James kebertan dengan kecendrungan psrs penganut strukturalisme yang memecah proses – proses mental menjadi unsur – unsur yang terpisah.tidak mengherankan kemudian,James menyebut aliran fikiran yang alami sebagai arus kesadaran.

Aliran dalam psikologi



GESTALT
Aliran gestalt muncul sebagai bentuk kritik terhadap teori -  teori yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori stukturalisme dari Wilhelm Wundt yang khususnya mempelajari proses penginderaan di anggap terlalu eleministik (terlalu mengutamakan elemen atau detail).Padahal persepsi manusia terjadi secara menyeluruh dan terorganisir,tidak secara parsial atau sepotong – sepotong.
Max Wertheimer,seorang professor psikologi di Frankfurt University mendirikan kelompok ahli psikologi yang di kenal dengan Gestalt Psychologysts.Ahli psikologi gestalt berfikir bahwa kesadaran manusia tidak dapat di pisahkan kedalam elemen dasar.”keseluruhan itu berbeda dengan jumlah bagian – bagian tersebut”. Gejala kejiwaan harus di pelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas.Keseluruhan adalah lebih dari sekedar penjumlahan unsur – unsurnya,lebih dahulu di tanggapi dari bagian – bagiannya,dan bagian – bagian itu harus memperoleh makna dari keseluruhan.
. Pandangan pokok psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt. Psikologi Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu pengalaman Wertheimer distasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi phenomena. Dalam pengalaman tersebutsinar yang tidak bergerak dipersepsi sebagai sinar yang bergerak (Garret, 1958).Walaupun secara objektif sinar itu tidak bergerak. Dengan demikian maka dalam persepsi itu ada peran aktif dalam diri perseptor. Ini berarti bahwa dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus objektif saja, tetapi ada aktivitas individu untuk menentukan hasil persepsinya.
Ahli psikologi Gestalt menggunakan fenomena phi untuk menggambarkan bahwa keseluruhan adalah berbeda dari jumlah masing – masing bagian. Ketika dua cahaya dimunculkan dengan gerakan yang cepat, kita melihat gerakan yang jelas pada stimulan yaitu, dari penerimaan dua pengumpulan cahaya, kita melihat satu cahaya bergerak dari satu posisi ke posisi yang lainnya. Penemuan ini sangat penting bagi ilmuan psikologi gestalt karena apa cahaya yang bergerak tidak muncul di kedua bagian stimulus sama sekali. Pergerakan adalah peralatan dari keseluruhan persepsi gestalt akan tetapi pergerakannya tidaklah bagian dari stimulus. Gambar yang bergerak berdasarkan fenomena phi inii. Rangkaian dari masing – masing gambar yang sedikit berubah Dari masing – masing bingkai di pantulkan di layar dengan cepat yang mana gambar muncul seperti bergerak. Ilmuan psikologi gestalt menggunakan contoh ini untuk membuat inti dari persepsi bermakna hanya ketika dilihat secara keseluruhan dari pada kumpulan sederhana daroi elemen seperti pendapat ahli structural.
Kurt Koffka (1886-1941), Koffka lahir di Berlin tanggal 18 Maret 1886. Kariernya dalam psikologi dimulai sejak dia diberi gelar doktor oleh Universitas Berlin pada tahun 1908. Pada tahun 1910, ia bertemu dengan Wertheimer dan Kohler, bersama kedua orang ini Koffka mendirikan aliran psikologi Gestalt di Berlin. Sumbangan Koffka kepada psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengamalan dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi sosial. Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip psikologi Gestalt.

Teori Koffka tentang belajar antara lain:
A .Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
B .Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
C .Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan. Wolfgang Kohler (1887-1967), Kohler lahir di Reval, Estonia pada tanggal 21 Januari 1887. Kohler memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfurt. Saat bertugas sebagai asisten dari F. Schumman, ia bertemu dengan Wartheimer dan Koffka. Kohler berkarier mulai tahun 1913-1920, ia bekerja sebagai Direktur stasiun “Anthrophoid” dari Akademi Ilmu-Ilmu Persia di Teneriffe, di mana pernah melakukan penyelidikannya terhadap inteligensi kera. Hasil kajiannya ditulis dalam buku betajuk The Mentality of Apes (1925). Eksperimennya adalah : seekor simpanse diletakkan di dalam sangkar. Pisang digantung di atas sangkar. Di dalam sangkar terdapat beberapa kotak berlainan jenis. Mula-mula hewan itu melompat lompat untuk mendapatkan pisang itu tetapi tidak berhasil. Karena usaha-usaha itu tidak membawa hasil, simpanse itu berhenti sejenak, seolah-olah memikir cara untuk mendapatkan pisang itu. Tiba-tiba hewan itu dapat sesuatu ide dan kemudian menyusun kotak-kotak yang tersedia untuk dijadikan tangga dan memanjatnya untuk mencapai pisang itu.
 Menurut Kohler apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah atau problem, maka akan terjadi ketidakseimbangan kogntitif, dan ini akan berlangsung sampai masalah tersebut terpecahkan. Karena itu, menurut Gestalt apabila terdapat ketidakseimbangan kognitif, hal ini akan mendorong organisme menuju ke arah keseimbangan. Dalam eksperimennya Kohler sampai pada kesimpulan bahwa organism dalam hal ini simpanse dalam memperoleh pemecahan masalahnya diperoleh dengan pengertian atau dengan insight.